
Kiddy
Seperti biasanya, hari itu, kelinci pergi bermain-main di dalam hutan belantara. Dia meloncat ke sana ke mari mencari rumput segar.
“Nyam-nyam-nyam,” begitu suara mulut kelinci mengunyah rumput.
“Enakkk!” kata kelinci saat rumput-rumput yang sudah dikunyahnya tertelan habis. Tiba-tiba kelinci cegukan. Oh tidak, dia membutuhkan air minum.
Kelinci buru-buru pergi ke sungai, dimana air segar melimpah ruah. “Slurrp... Slurrp... Slurrp...,” kelinci minum air dengan begitu banyak.
Saking hausnya, kelinci sampai tak sadar jika ada sepasang mata yang menyembul dari dalam air sungai. Itu adalah sepasang mata milik buaya. Dia mendekati kelinci dengan tenangnya. Pelan, pelan, dan pelan.
Ketika sudah dekat, buaya dengan cepat keluar dari dalam air. Dia menangkap kelinci dengan mulutnya. Oh kelinci yang malang. Sebelum menelannya, buaya bertanya, “Ha, kelinci, ketangkap kamu sekarang. Takut kan kamu berada di dalam mulutku?”
Kelinci sebenarnya ketakutan setengah mati, tapi dia berpura-pura berani dan berusaha mengatur suaranya sedemikian rupa supaya tidak terdengar ketakutan. “Buaya bodoh, kamu memang besar, tapi aku tidak takut padamu. Kamu mengancamku dengan suara keras itu, karena kamu tidak bisa membuka mulutmu lebar-lebar kan?”
Ejekan kelinci itu membuat buaya kesal. Dia membuka mulutnya lebar-lebar, lalu kembali mengeluarkan suara keras. Di saat bersamaan, kelinci buru-buru melompat dan memotong lidah buaya dengan cakarnya. Hal itu membuat buaya langsung menutup mulutnya, dan ekor kelinci pun jadi korbannya. Kelinci pun berhasil melarikan diri.
Dan seperti itulah sampai sekarang, kelinci tidak lagi memiliki ekor panjang yang indah dan buaya tak lagi memiliki lidah panjang seperti reptil-reptil lainnya
Kelinci dan Buaya
